Banyak yang mengira G-30-S adalah peristiwa rangkaian penculikan para Jenderal, framing stop sampai situ. Tapi hakikat gestok 1965 adalah tragedi kemanusiaan terbantainya 3 juta manusia pasca kejadian gestok yang jumlahnya pernah disebut  oleh Sarwedi.

Genosida politik dan ketakutan-ketakutan tragedi keluarga keluarga yang terpecah, anak kehilangan bapaknya, kehilangan ibunya. Pembuangan ribuan intelektual ke Pulau Buru untuk kerja paksa tanpa dijelaskan apa salah mereka.

Ketakutan diciptakan untuk menciptakan kekuasaan tanpa koreksi. Dari tingkat rakyat sampai tingkat ruling class. Bung Karno dihina sampai akhir hidupnya,  kematiannya yang tragis di tahun 1970 adalah tangisan jutaan rakyat yang dibungkam tentara, rakyat berbaris baris menyimpan pertanyaan kenapa Bung Karno-ku dibegitukan, semua tokoh-tokoh Sukarnois dihabisi, disingkirkan dengan cara biadab, rakyat-rakyat yang militan disikat, film jagal dan senyap bukan apa-apa bila seluruh orang-orang tua kita bersaksi atas pembantaian pembantaian mulai Aceh sampai Bali, inilah tragedi kemanusiaan.

Ketakutan diciptakan generasi demi generasi, rakyat diasingkan oleh sejarahnya, diasingkan oleh hakikat tujuan-tujuan nasional. Semua di screening atas nama kekuasaan, lalu munculah produk produk kekuasaan ; "Bersih Lingkungan", "Waskat, Pengawasan Melekat" Orde Baru didirikan dengan cara-cara bajingan lalu dibungkus oleh kaum intelektual teknokrat, pemilu diadakan tiap 5 tahun sebagai gimmick politik dan rakyat dianggap barisan Pak Turut dan Bu Turut, berbaris seperti bebek dibawah bayang-bayang ketakutan.

Uniknya ketakutan-ketakutan itu kemudian dimanipulir dengan membentuk kesadaran palsu : adil dan makmur, pembangunan, dan segala macam bentuk mantra-mantra kekuasaan.

Kekuasaan menjadi mistis karena tidak adanya pengetahuan dan kanal-kanal informasi soal akses-akses kekuasaan. Suharto adalah pusat keangkeran itu. PKI dijadikan hantu politik untuk mengancam dan meniadakan, agitasi dan propaganda (agitprop) dibangun menurut selera seenaknya Ali Moertopo yang kemudian menjadi teknik propaganda yang kelam, film-film negara dibuat untuk mengokohkan kekuasaan dibawah asuhan Gufron Dwipayana.

Tahun 1998 mahasiswa-mahasiswa mulai tersadar "kekuasaan Suharto sudah kelewat batas", barisan anak-anak muda menantang Suharto, membongkar kebusukan kebusukannya. Termasuk Amin Rais itu menantang Cendana dan hampir semua orang tau betapa benci Harto pada Amin Rais.
Nama Amin berkibaran karena menantang Harto dikoran-koran, kini malah Amin Rais kemana mana bersama keluarga cendana, mungkin inilah rakyat lebih menjuluki Amin Rais sebagai Sengkuni ketimbang julukan Bhisma.

Mahasiswa-mahasiswa dengan berani menjatuhkan Suharto, membereskan Orde Baru. Reformasi dimenangkan, demokrasi berjaya di negeri ini, demokrasi tanpa todongan bayonet.

Tapi kini kita dihadirkan banyak lawakan lawakan politik, cara-cara Orde Baru menciptakan Psy War dimainkan lagi. Bagi pemuja Orde Baru,   politik bukan lagi soal pendidikan rakyat yang mencerahkan tapi politik adalah bagaimana membuat Psikologi Ketakutan di tengah rakyat ketika ketakutan sudah diciptakan orang digiring untuk memilih bukan solusi kesejahteraan tapi karena 'cari aman'.

Intimidasi menciptakan psikis ketakutan digali lagi oleh para pengeruk keuntungan para penikmat Orde Baru, sebagian intelektual tertawa tawa karena paham keadaan bagaimana anak-anak orba melakukan propaganda, sebagian lagi malah terjebak dan menjadi Pak Turut bagi propaganda Orde Baru.

Isu-isu dimainkan dengan cara konyol. Karena mereka tak paham jutaan orang menderita atas genosida yang ganas itu, residu dari penderitaan itu adalah ketakutan ketakutan yang luar biasa dan dipendam di alam bawah sadar bangsa ini.

Ya ini memang bukan soal Orde Baru atau bukan. Bukan bung. Tapi soal nuranimu apakah kalian terus tega memainkan alam ketakutan ketakutan untuk meraih dukungan politik dan merampok negeri ini lagi?

Jaman sudah berubah, kalian tak bisa menciptakan Orde Baru di tanah lempung, kalian hanya memproduksi ketakutan-ketakutan tapi tidak akan mampu merebut kekuasaan di atas generasi muda yang tersadarkan oleh sejarah.

Walaupun seribu kali film hoax kalian pamerkan, kesadaran anak-anak muda untuk sudah merekah dan paham atas produk produk ketakutan Orde Baru.
Karena benar kata Abraham Lincoln, "kalian dapat menipu semua orang untuk beberapa saat dan beberapa orang untuk selamanya. Namun kalian tidak akan bisa menipu semua orang untuk selamanya."
Aku lebih percaya Lincoln  daripada Joseph Goebbels, yang mengatakan "ulangi ulangi ulangi kebohongan terus menerus sehingga mereka percaya kebohongan menjadi kebenaran".
Produk produk ketakutan Orde Baru yang diciptakan dengan nalar bajingan,  inilah yang harus kita lawan.

Anton DH Nugrahanto

Copyright © 2011 - 2023 | isme1989