Jodoh
 
Seorang laki-laki menyukai seorang perempuan. Ia mendekatinya, mencoba mengenalnya lebih jauh, dan membuat dirinya dikenal. Mereka menjadi lebih dekat, kemudian pacaran. Akhirnya mereka menikah. Mereka berjodoh.

Ada 2 orang yang sudah pacaran lama, sudah bertunangan, bahkan sudah mencetak undangan, tapi akhirnya tak jadi menikah. Mereka tak berjodoh.

Jadi, kalau menikah artinya mereka berjodoh? Ternyata tidak juga. Orang yang sudah menikah, ternyata akhirnya bercerai. “Ternyata dia bukan jodoh saya,” katanya. Lhaaa, lalu jodoh itu apa?

Orang percaya jodoh itu sudah diatur. Asam di gunung, garam di laut, bertemu di dalam panci. Kalau jodoh tak lari ke mana. Kalau sudah ditentukan, apakah dengan diam saja seseorang akan dapat jodoh? Ternyata tidak juga. Harus ada usaha agar dipertemukan dengan jodoh.
Lho, kalau sudah ditetapkan, bukankah seharusnya pertemuan pun diatur oleh yang menetapkan?
Sebaliknya, seperti cerita di atas tadi, 2 orang sudah berdua, berencana menikah, eh ada saja halangannya. Itu karena mereka tidak berjodoh. Yang mengatur tadi tidak akan membiarkan orang-orang tak berjodoh itu bersatu.

Sebenarnya bagaimana sih? Konsep jodoh lahir dari kesimpulan bias manusia atas kejadian di sekitar ruang hidupnya. Ada banyak kejadian yang mereka anggap tidak masuk akal, tapi terjadi juga. Nah, penjelasannya, karena ada yang mengatur.

Tapi apa itu yang disebut tidak masuk akal? Sebenarnya kebanyakan yang disebut begitu adalah sesuatu yang di luar wawasan dia saja.
Manusia melihat banyak kejadian, lalu menyimpulkan pola tentang kejadian-kejadian itu. Tapi selalu saja ada kejadian yang berbeda dari pola umum itu. Itu disebut penyimpangan. Sering pula disebut tak masuk akal tadi. Nah, hal-hal semacam itu disebut tak masuk akal. Di situ biasanya danggap ada yang mengatur.
 
Hal-hal yang menyimpang itu biasanya menarik perhatian manusia, dianggap ajaib. Matahari terbit itu biasa. Gerhana matahari, itu luar biasa. Karena itu manusia menciptakan mitos-mitos tentang kejadian itu, juga menciptakan ritual-ritual ibadah terkait peristiwa itu. Padahal matahari terbit dan gerhana matahari terjadi mengikuti suatu pola yang sama, mengikuti hukum gravitasi.

Orang menikah karena ada interaksi. Interaksi ini ditentukan oleh mobilitas manusia. Mobilitas itu ditentukan oleh teknologi. Dulu orang menikah dengan orang yang sekampung dengan dia. Orang di kampung yang terisolir, tidak mungkin menikah dengan orang kampung lain.
 
Saat ada interaksi dengan kampung lain, orang bisa menikah dengan orang kampung lain. Maka jangkauan pernikahan makin luas. Di kota pergaulan manusia jadi lebih luas, pola-pola pertemuan jadi jauh lebih luas. Kini, manusia bisa terhubung dan berkomunikasi tanpa harus bertemu. Kini 2 orang dari tempat berjauhan bisa memutuskan untuk menikah tanpa bertemu terlebih dahulu. Seabad yang lalu hal itu mustahil terjadi.
 
Pernikahan itu mirip dengan makanan. Zaman dulu orang Minang hanya tahu masakan Minang. Mereka tentu tak mengenal spageti. Sebaliknya, orang Aljazair tak mengenal rendang. Kini orang Minang tetap makan rendang, tapi cukup banyak dari mereka yang suka spageti. 
 
Adakah yang mengatur siapa makan apa? Tidak. Demikian pula soal siapa kawin dengan siapa. Itu hanyalah produk pilihan yang dibuat manusia saat merespon situasi yang ia hadapi. 
 
Seorang pemua melihat seorang gadis dalam sebuah perjalanan di kereta. Ia menyukai gadis itu. Itu adalah situasi biasa yang terjadi dalam setiap detik. Apa yang membuat keduanya bisa menikah? Kalau pemuda itu berinisiatif mendekat, mengajak kenalan. Itu pun tergantung tanggapan dari si gadis. Kalau ia menganggap itu gangguan, cerita tidak akan berlanjut.
 
Yang terjadi hanyalah hal-hal biasa saja. Semua bisa dijelaskan. Hanya saja lebih banyak orang yang tidak mau berpikir untuk mencari penjelasan logis. Lebih banyak orang yang nyaman dengan rumusan yang dibuat orang di masa lalu. Ringkas, tak menghabiskan energi pikir. Pragmatis.

Kang H Idea

Copyright © 2011 - 2023 | isme1989