Sulit membayangkan alam semesta tanpa pencipta?

Sebenarnya tidak sulit. Anda bahkan tidak perlu membayangkannya. Di depan mata Anda semua terjadi. Rumput-rumput liar bisa tumbuh tanpa ada yang menanam. Lumut diam-diam tumbuh mengikis permukaan batu. Air menguap, menjadi awan, kemudian mengembun, lalu jatuh sebagai hujan.

Apakah Anda melihat sosok yang mengatur semua itu? Tidak. Tapi Anda terus mengatakan bahwa ada yang mengatur semua itu. Satu-satunya alasan untuk berkata begitu adalah karena sejak kecil Anda diajari bahwa alam semesta ini diatur oleh suatu kekuatan. Yang mengajari Anda adalah orang dari generasi sebelumnya. Ia diajari orang dari generasi sebelumnya. Begitu seterusnya.

Sumber ajaran itu adalah suatu masa, ketika sains belum ada. Ketika orang masih percaya bahwa ada makhluk yang tak tampak yang menggerakkan awan, mengendalikan air, menunggui pohon. Di zaman itu orang percaya bahwa kalau seseorang diare, itu mungkin karena ada makhluk halus yang mengganggunya.

Itu adalah satu set kepercayaan yang diajarkan di masa lalu, yang fakta-faktanya sudah dibantah oleh sains. Sains sudah menunjukkan bahwa orang sakit perut karena bakteri, bukan karena jin. Sains bahkan sudah menemukan solusinya. Tapi tetap saja sulit bagi banyak orang untuk tidak terikat pada ajaran tentang penciptaan.

Orang zaman dulu tidak paham bagaimana alam bekerja. Soal kenapa setiap benda jatuh saja baru abad XIX manusia menemukan rumusannya. Orang tidak paham kenapa awan bergerak dan hujan turun. Juga bagaimana terjadinya siang dan malam.

Orang zaman dulu percaya bahwa alam diciptakan oleh Tuhan, dan diatur oleh Tuhan, dalam setiap detil peristiwa. Orang percaya bahwa Tuhan atau melalui malaikatnya mengatur pergerakan angin, awan, air, laut, dan sebagainya. Kalau Tuhan sedang kurang berkenan, Dia bisa menggerakkan hujan untuk menimbulkan banjir, mengeluarkan lahar gunung berapi, atau menggetarkan bumi agar jadi gempa dan tsunami.

Ketika manusia tahu mekanisme hujan, gunung meletus, dan gempa diketahui, manusia masih banyak yang menganggap bahwa itu semua akibat keputusan Tuhan. Kini keputusan Tuhan dipahami memakai sains.

Bagaimana hujan turun? Uap air berkumpul menjadi awan, lalu mengembun, menjadi berat, lalu jatuh sebagai hujan. Semua itu diatur oleh Tuhan. Gempa terjadi karena lempeng-lempeng kerak bumi. Yang menggerakkannya adalah Tuhan.

Tuhan masih dihubungkan dengan bencana alam. Kalau ada kejadian alam yang mencelakakan manusia, itu dikaitkan dengan kemarahan Tuhan. Tuhan marah kepada manusia. Tapi sering juga akibat kemarahan itu hewan dan tumbuhan ikut menanggung akibatnya.

Yang kasihan itu bakteri. Kagak pernah ngewe tapi kena azab.

Kang H Idea

Copyright © 2011 - 2023 | isme1989