Mengurai Kehendak Tuhan Dalam Truk Yang Remnya Blong
Ketika sebuah truk rem blong menabrak mati seorang bapak yang tak bersalah, banyak orang menutup cerita dengan kalimat pendek yang praktis "sudah takdir tuhan".
Kalau begitu, coba kita bongkar pelan-pelan, menguraikan komponen takdir Tuhan yang mengambil nyawa bapak tersebut, sbb:
1. Rem blong, terjadi karena system pengereman kurang dirawat;
2. Kurang dirawat, karena biaya servis ditunda oleh perusahaan untuk menekan pengeluaran;
3. Biaya servis ditunda, kerana Sebagian dana operasional bocor sebagai pungli dijalan;
Ada pungli dijalan, karena ada oknum apparat yang menjadikan jalanan sebagai sumber pendapatan tambahan;
5. Oknum apparat korup, karena budaya kantor menormalisasi "uang rokok" sebagai tradisi;
6. Budaya korup itu bertahan, karena masyarakat membiarkannya, karena jalan pintas lebih digemari daripada prosedur Panjang yang melelahkan.
Sampai disini sudah Panjang, tapi ternyata rantainya belum selesai. Setelah dipreteli ternyata semua komponen takdir Tuhan itu bukan berasal dari langit, tapi dari keputusan-keputusan jaringan besar manusia. Budaya, Institusi, Kebijakan, Ekonomi, Korupsi, sampai normalilasi kebiasaan buruk.
Dititik ini, kita pantas bertanya "masihkah kita mengatakan Tuhan yang mengambil nyawa? Masihkah kita menyebut Tuhan yang menentukan umur seseorang?"
Padahal, Ketika semua sebab berasal dari manusia, dari system yang dibangun dan dibiarkan, maka berarti system itulah pembunuhnya.
Dan jika setelah semua ini, kita tetap bersikeras berkata "Tuhan yang mengambil nyawa", maka maknanya berubah secara halus tapi mencengangkan. Tuhan itu adalah kita semua.
Sama saja dengan mengatakan Tuhan bukan sosok pengatur dari jauh, tetapi hadir di dalam system yang dibangun. Ketika masyarakat dan system buruk, Tuhan terpaksa bekerja melalui cara-cara yang tampak kejam, misalnya dalam urusan mengambil nyawa.