Pemilu 1955
Pemilu 1955 berlangsung sengit. Partai-partai politik saling serang, termasuk menjelek-jelekkan satu sama lain.
Pemilu 1955 ini menabalkan Empat partai besar di panggung politik utama, yakni Partai Nasional Indonesia (PNI), Masyumi, Nahdlatul Ulama, dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Peneliti asal Australia yang dipekerjakan Pemerintah RI, Herbert Feith, menggambarkan suasana persaingan Pemilu 1955 di buku "The Indonesian Elections of 1955". Ada sejumlah peristiwa yang terjadi, antara lain demonstrasi menentang penistaan agama, penolakan pemakaman komunis, hingga intimidasi yang dilakukan aparat.
Masyumi beradu dengan PNI soal aspirasi penerapan syariat Islam di Indonesia. Ada momentum yang menyulut ketegangan. Presiden Sukarno, di Amuntai Kalimantan Selatan pada Januari 1953, memperingatkan usaha mengubah Indonesia menjadi negara Islam akan menyulut perpecahan dari daerah-daerah yang penduduknya bukan Islam.
Kalangan Islamis bereaksi keras menanggapi Sukarno. Anggota DPR dari Masyumi, Kiai Hadji Isa Anshary, dalam kampanyenya selalu mengutuk pemimpin partai politik non-Muslim sebagai munafik dan kafir. PNI menilai Isa Anshary sebagai ekstremis karena selalu menentang simbol-simbol nasionalisme.
Dituliskan oleh Feith di bukunya yang lain, yakni "The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia", ada kasus penistaan agama yang dilakukan pihak Permai (Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia) yakni Mei Kartawinata. Dia menyatakan Muhammad adalah nabi palsu. Ada pula Mr Hardi dari PNI yang mengatakan Alquran sudah ketinggalan zaman.
Organisasi Islam yang didominasi Masyumi kemudian menggerakkan demonstrasi Februari 1954 mengecam Permai dan PNI. Ini adalah demo lanjutan dari isu sebelumnya, yakni digantinya Wali Kota Jakarta Raya yang dari Masyumi, Sjamsuridjal, dengan orang PNI yakni Sudiro. Penggantian ini juga mengubah komposisi representasi Masyumi di Komite Pemilihan setahun sebelum Pemilu.
Setengah juta orang turun ke jalan. Unjuk rasa berujung rusuh. Satu orang kapten TNI yang berusaha menjaga keamanan menjadi korban tewas kerusuhan.
Baca Selengkapnya di detik.com,
Drama Pemilu 1955: Demo Penista Agama Sampai Tolak Pemakaman Komunis
Drama Pemilu 1955: Demo Penista Agama Sampai Tolak Pemakaman Komunis